kenali-jurusan-unas

“Penyebab utamanya, sebagian mereka melakukan pilihan jurusan bergantung kepada pendapat pribadi yang belum tentu sesuai dengan potensi dalam diri mereka, termasuk juga pengaruh teman-temannya,”
Jakarta[UNAS] – Salah pilih jurusan? Ini adalah fenomena unik yang terjadi di Indonesia. Beberapa mahasiswa mengaku pernah mengambil jurusan atau program studi yang berbeda sebelum akhirnya memilih program studi yang saat ini dijalani. Sebagai contoh, seorang mahasiswa mengambil studi Akuntasi. Namun, tahun berikutnya, ia akhirnya mengambil program studi Desai Komunikasi Visual.

Hal tersebut diakui oleh pakar psikologi anak dan remaja Dr Charyna Ayu Rizkyanti SPsi MA. Charyna menuturkan berdasarkan riset yang dilakukan Universitas Nasional, permasalahan salah memilih jurusan atau program studi masih dipengaruhi oleh minimnya informasi tentang potensi diri calon mahasiswa.

“Penyebab utamanya, sebagian mereka melakukan pilihan jurusan bergantung kepada pendapat pribadi yang belum tentu sesuai dengan potensi dalam diri mereka, termasuk juga pengaruh teman-temannya,” ungkap Charyna yang juga merupakan Ketua Bidang Pendidikan Karakter dan Pengembangan Karier Badan Konseling Integritas Bangsa Universitas nasional ini.
Sementara itu, Rektor UNY Prof Dr Rochmat Wahab MPd MA menuturkan, mahasiswa membutuhkan karakter tertentu dalam proses belajar dan penyelesaian tugas kuliah hingga masa bekerja. Di luar minat dan bakat, kegagalan studi atau antusiasme yang minim bisa jadi akibat karakter mahasiswa yang kurang mendukung.

“Karakter atau ciri kepribadian tertentu memang dapat mengarahkan keberhasilan profesi seseorang. Katakalah, mahasiswa kedokteran yang ingin berhasil diharapkan sejak kuliah mampu menunjukkan perilaku peduli, menyenangkan, melindungi, dan melayani,” kata Rochmat.

Rochmat menjelaskan, secara umum tidak diperlukan tes khusus untuk mengetahui kecocokan karakter dengan jenis program studi. Namun, secara khusus, tes kepribadian sangat diperlukan untuk pemilihan program studi tertentu. Misalnya, program studi Kependidikan dan Kedokteran. Tes kepribadian ini dapat dilakukan pada awal masuk program pendidikan akademik, tetapi bisa juga dilakukan pada awal masuk program pendidikan profesi.

Charyna menjelaskan, pada masa SMA, remaja berproses dalam pencarian identitas dirinya. Meskipun ini fase alamiah yang umum, kepekaan dari lingkungan, terutama dari orangtua, tetap diperlukan. Orangtua yang peduli akan mampu mendeteksi perubahan pada remaja sehingga remaja dapat terelakkan dari hal-hal yang sifatnya negative dan mampu mengembangkan potensi dirinya. Jadi, remaja akan mampu memutuskan jurusan yang dipilih sesuai dengan potensi dirinya. Inilah yang disebut bahwa remaja telah menemukan jati dirinya (identity achievement). [MIL]

Berita selengkapnya dapat dilihat di Koran Kompas edisi Kamis, 30 April, 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *